Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Jendela Teita

Blog EntryJun 7, '10 5:49 AM
for everyone

Ketika itu di suatu ruangan dimana 6 orang terbaring bersama jasad yang rapuh. Disana, mereka harus berbagi bersama saudara-saudaranya dalam sebuah keterbatasan. Ruang perawatan kelas 3 di sebuah rumah sakit.


Siang itu seorang gadis kecil singgah setelah beberapa hari terdiam di sebuah ruangan yang indah. Kami pahami kepindahannya sebab perjuangan ini tidaklah singkat dan mereka memerlukan lembaran biru bahkan merah yang tak sedikit. Kami, ia, dan mereka memerlukan sebuah waktu bersama bumi yang berotasi juga beberapa purnama.


Tubuh mungil itu terbaring disana. Anak perempuan berusia 5 tahun. Aisyah. Sepasukan musuh yang bernama bakteri menyerang galaksi bimasaktinya, sebuah tempat dimana bersemayam ide-idenya yang brilian. Bakteri itu menembus selaput yang melindungi otaknya dimana “lautan bintangnya” senantiasa berkelip. Ia terkena meningitis (radang selaput otak)


Matanya kadang terbuka namun tak melihat karena jiwanya masih berkelana dalam sebuah taman tak tersentuh. Anak itu masih belum sepenuhnya sadar. Dengan tubuhnya yang api kadang sampai 39o C, sesekali menegang dan gelisah. Tiga kali antibiotic harus berjalan melalui pembuluh darahnya dan obat-obat lain yang mengalir ke sana atau melalui sebuah selang plastic kecil yang melewati hidung hingga tiba di lambungnya yang kami sebut NGT (Nasogastric tube).


Dan kembali tangan kami tak bisa jika harus bekerja dalam sepi. Kami percaya, walau matanya terpejam juga ruhnya masih berjalan-jalan entah kemana, namun ia bisa mendengar juga merasakan keberadaan kami.


Ais sayang… obat dulu yah… Bismillaahirrohmaanirrohiim…” Terkadang tangannya terlihat menegang ketika kami berikan 5mililiter cairan bening kekuningan bernama antibiotic itu dalam sebuah spuit jarum suntik. Memang tidaklah nyaman ketika ia harus menyapa dan mengalir dalam sebuah pembuluh darah hingga tiba tempat tujuan.


Dan waktu terus berjalan bersama bumi yang berotasi beberapa kali. Kurang lebih seminggu di ruangan barunya ia mengalami perkembangan positif. Kami sudah bisa menemukan mata kami dalam 2 bola matanya yang bening, juga mendengar suaranya yang merdu. Ya, ia sudah bisa menatap kami dan sedikit berceloteh. namun kami menjadi sedikit kesulitan ketika harus memberinya obat.


Dia sebenarnya anak yang bisa diajak kerjasama, namun kami tahu obat-obat itu sangatlah tidak nyaman baginya atau bagi siapapun. Tangannya sering ia tarik dan sebisa mungkin disembunyikannya. Melihat kami membawa obat itu ia seperti melihat seorang musuh yang mengancam, walau dalam waktu yang lain kami sebenarnya berteman.


Ais, sayang… biar cepet sembuh, nak. Biar kuman-kumannya cepet kalah. yuk pinjam dulu tangannya sebentar…” kami mencoba membujuknya, namun sepertinya ia masih bersikukuh dengan tekadnya untuk mencegah antibiotic menyentuh tubuhnya.


Sang ibu harus memegang tangan yang lainnya kemudian diikuti sebuah tangisannya yang nyaring dan obat itu mengalir dalam pembuluh darahnya. Ah, tidak ingin kami dengan paksaan seperti itu sebenarnya.


Kami mencoba mengumpulkan bintang-bintang yang berharap bisa membentuk sebuah penujuk untuk membangkitkan keberaniannya dalam mengahdapi obat-obat tersebut. Aha, sepertinya ia menyukai cerita, buku dan semacamnya karena di tempatnya berbaring kadang kami temukan sebuah buku cerita anak-anak, buku gambar dan pensil warna. Oke, kami mencoba mendekatinya lewat sana.


Ais, lagi apa sayang ?


Sang ibu memberi kami ruang dan kami duduk di dekatnya. Sementara anak itu, ia hanya tersipu memainkan pensilnya di atas buku gambar. Ia sedikit kikuk.


Ais suka gambar ya?”


Iya. nih… “ dengan matanya yang bintang ia perlihatkan sebuah gambarnya. Infusan itu tak mampu membuatnya diam ternyata.


Wih, bagusnya… Ais seneng gambar apa?” kami menyambut gambarnya dengan wajah matahari juga mata yang kejora.


Anak itu tampak kebingungan. Mungkin karena saking banyaknya hal yang ia sukai.


Ais seneng bintang, nggak? Suster punya satu nih…” sambil saya perlihatkan dan mainkan sebuah bintang berwarna biru yang digunting dari sebuah kertas warna


sukaa..” jawabnya manja. Matanya mencoba melirik bintang itu. Saya tahu, bintang biru mulai menarik perhatiannya.


Kalau setiap dikasih obat Ais berani dan nggak narik tangannya, nanti Ais bisa dapat 1 bintang loh. Nah, bintangnya bisa kita tempel disini, nanti..” saya coba menempelkan bintang itu di atas buku gambarnya.


Gimana… Ais berani nggaak…?” kami coba tawar menawar dengannya, dan dia masih harus memikirkan itu tampaknya.


Nanti... kalau bintangnya sudah dapat lima, Ais bisa dapet bintang kejora. Bintangnya besar. Lebih besar dari ini.. ”


Dan kelingking kami pun bertaut tanda setuju walau ia tampaknya masih ragu. Kami coba esok paginya, karena begitulah perjanjian dengannya. Sebuah bintang berwarna biru dan dua buah obat dalam spuit. Anak itu masih kelihatan takut. Kami bisa pahami. Hospitalisasi adalah hal yang tidak nyaman bagi siapapun.


Ais boleh kok kalau mau nangis tapi suster pinjam tangannya ya… jangan ditarik ya nak ya... Bismillaah…”


Dengan bersandar pada ibunya ia serahkan tangannya yang mungil dan tangisanpun terdengar. Kami hanya tersenyum.


Alhamdulillaah, sudaah… bintangnya kita tempel dimana ya..?” Kami mencoba menarik perhatiannya kembali.


Dengan matanya yang basah juga mulut yang masih tertekuk ke bawah, ia sodorkan buku gambarnya dan sebuah bintang berwarna biru menempel di sana. Begitulah, jam berganti hari. Sepertinya obat-obat itu bukan lagi sesuatu yang menakutkan baginya. Kadang ia sudah menyodorkan sendiri tangannya. Tanpa tangisan. Kemudian kembali pada bukunya. Dan menempelah 5 buah bintang biru dan 1 buah bintang kejora berwarna kuning. Bintang kecil warna merah dan bintang kejora berwarna hijau. Dan bintang itu terus bertambah.


Wah Ais memang hebat! bintangnya sudah banyak ya...”


Anak itu hanya tersipu.


Nah, kalau Ais makannya banyak dan sudah boleh pulang, nanti suster bacain cerita deh. Nih, suster bawa bukunya…” saya perlihatkan sebuah buku dongeng anak-anak. Buku bergambar gajah dengan sebuah rembulan. Ia tampaknya penasaran dengan buku itu. Namun ia harus bersabar bersama waktu dan berusaha memperoleh cerita tersebut.

Tak lama berselang hari. Siang itu, bersama bintang-bintang dan sebuah cerita “Mengambil Bulan”, gadis kecil meninggalkan ruangan kami. Perjuangannya belumlah berakhir, karena ia masih harus berhadapan dengan pil-pil pahit yang harus dimakannya selama beberapa bulan. Ais kecil, dia tidak menyadari bahwa bintang sebenarnya adalah dia. Karena dia berhasil mengalahkan rasa takutnya dan berusaha menumbuhkan keberanian untuk memperoleh sesuatu.


Ya, hal yang tidak nyaman memang sesuatu yang menakutkan bagi anak-anak. Saya pikir adalah tugas kita membantu membangunkan keberanian mereka yang terdiam karena sebenarnya mereka adalah pemberani.


Bintang – bintang serta cerita itu adalah salah satu penghargaan atas kerja keras dan keberanian ‘sang bintang kecil’. Dan bersama bumi yang berotasi juga berevolusi semoga bintang kecil itu akan menjadi kejora yang menjadi sebab sebuah terang bagi semesta.


Teita. 7 Juni 2010. Tanah Kaili

Postingan ini saya tulis dalam rangka kontes blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan oleh www.anazkia.blogspot.com dan disponsori oleh http://denaihati.com/



Add a Comment